Jumat, 03 April 2009

CerPen : Kutinggalkan Cinta Demi Mengecar Cita-Cita

Kutinggalkan Cinta
Demi Mengejar Cita-Cita

“SIANG!!!” teriak Chise. Langsung saja aku terkejut. “Chise, lagi-lagi kau datang dengan berteriak-teriak. Kapan sih, bisa lebih lembut sama orang?” omelku. “Maaf deh, Midori-chan. Habisnya aku ada kabar gembira nih, kamu mau dengar gak?” kata Chise, masih dengan berteriak-teriak.

Sambil menutup telinga karena teriakan Chise, aku menjawab “Iya, aku mau dengar. Tapi ngomongnya pelan-pelan ya”. Chise mengangguk dan mulai bercerita...

“Tau, gak Midori? Aku udah jadian sama Nugraha, cowok yang aku incar itu. Apa kubilang, aku pasti bisa pacaran sama orang Indonesia. Nugraha bilang, hari Minggu nanti kami mau kencan!” jelas Chise, anak kelas 2 SMP yang hobinya ngeceng itu. Aku yang mendengar penjelasan Chise, langsung terperanjat. “Kok bisa? Nugraha itu kan anak baik-baik, kamu juga baru dua minggu disini. Masa kamu udah nembak dia? Kamu yakin sama pilihanmu kali ini?” ujarku tak percaya.

“Midori-chan, kamu tenang aja deh. Semuanya biar aku yang atur” kata Chise. Aku yang semakin tidak mengerti arah pembicaraan Chise, langsung meninggalkan kantin. Sepertinya Chise terbingung-bingung.

“Ada apa, Midori-chan? Kok kamu lesu gitu sih? Kasih tau aku, dong? Kita sahabat kan?” bujuk Chise. Aku tetap diam tersenyum. Aku tak bisa menceritakan hal ini pada Chise. Sekalipun dia sahabatku. Aku takut dia tak mau lagi berteman denganku.

“Midori.... ayo cerita...kamu ada masalah apa?” tanya Chise sambil memasang tampang memelasnya. Aku tak tahan. Akhirnya kuceritakan semua masalahku pada Chise.

“Chise, kamu tau kan, orangtuaku sudah bercerai?” tanyaku. Chise mengangguk. “Kalau aku ceritakan, kamu janji tetap mau berteman denganku?” tanyaku lagi.

“Midori-chan, kamu satu-satunya orang yang bisa mengerti dan memaklumi sifatku. Lagian, aku sudah sangat puas memiliki sahabat yang baik hati, cantik, pintar, hebat, berani dan berbakat sepertimu. Midori-chan adalah sahabatku. Midori Mourina adalah sahabat Chise Kawakami. Jadi, ada masalah apa?” jelas Chise.

“Orangtuaku bercerai, dan aku tinggal dengan Mama. Tadi malam, Mama memberitahuku kalau Mama mau menikah lagi...” ujarku pelan.

“APA??!! Mama Midori-chan mau menikah lagi? Dengan siapa? Apa Papa barumu nanti juga punya anak? Kalau iya, nanti kenalkan padaku ya” teriak Chise. Untungnya kami berada di halaman belakang. Tidak banyak orang di sana karena tamannya tandus.

“Ssstt, Chise! Kok kamu malah berteriak girang sih?” ujarku sambil menutup mulut Chise yang masih mau berteriak. “Iya, maaf deh, Midori-chan. Habisnya aku senang, sebab cita-cita sahabatku sudah mau tercapai. Mama Midori-chan menikah lagi kan merupakan cita-citamu sejak orang tuamu bercerai?” jelas Chise. Aku mengangguk.

“Memang sih, cita-citaku ini agak aneh. Cita-citaku adalah melihat Mama bahagia setelah menikah lagi dan aku punya Papa baru. Tapi begitu mendengar kabarnya saja, aku merasa khawatir, Mama akan bercerai lagi seperti dulu” gumamku dalam hati ketika berjalan menuju kelas. Bel masuk setelah istirahat sudah berbunyi.

”Anak-anak, ada anak baru yang akan bersekolah disini, dan masuk ke kelas ini. Jadi mohon perhatiannya, ya” ujar Bu Guru. “Nah, Toyama-san, ayo masuk” ajak Bu Guru pada anak laki-laki yang berdiri di depan pintu.

“Perkenalkan, namaku Syaoran Toyama, salam kenal” ujar anak bernama Syaoran itu. Wajahnya terlihat seperti....“Nah, karena Toyama-san ini pindahan dari Jepang, bagaimana kalau kamu duduk di sebelah Mourina-san atau Kawakami-san ya” ujar Bu Guru lagi. Nah, tebakanku tepat. Syaoran Toyama ini pasti orang Jepang, dilihat dari wajahnya.

“Lho! Kamu Midori-chan kan? Orang yang sering menamparku karena memperhatikanmu terus waktu kelas 3 SD di Jepang?” tanya Syaoran setelah duduk disebelahku.

Aku tertegun! Benar juga, waktu kelas 3 SD aku sering menampar anak laki-laki yang memperhatikanku terus. Hanya saja aku tak tahu namanya karena beda kelas. Aduh! Mati aku. Dia ngomong kayak gitu kok keras-keras sih? Semuanya jadi melihat ke arahku.

“Aduh! Sepertinya Toyama-san mengigau ya, masa aku sering menampar cowok sih? Waktu kelas 3 SD kan aku gak pernah kenal sama kamu” ujarku lagi. Setelah aku mengatakan itu, Bu Guru melanjutkan pelajaran.

Aku mencubit kaki Toyama-san dan berbisik “Kamu ini, jangan bertingkah yang aneh-aneh ya. Memang sih, aku sering menamparmu, jadi aku minta maaf. Dan jangan pernah mengangguku lagi” bisikku ke telinga Toyama-san. Aneh. Dia malah tersenyum manis ke hadapanku. Aku yang eneg melihat senyumnya mengalihkan pandangan ke depan.

Sepulang sekolah, seperti biasa aku dan Chise segera menuju ke halaman belakang. Habisnya, disanalah aku dan Chise mencurahkan isi hati masing-masing. Dan lagi, di halaman belakang itu kan sepi, jadi kami tidak perlu khawatir kalau pembicaraan kami akan terdengar. Kecuali....

Sedang asyik-asyiknya bercerita, aku dan Chise merasa sedang diikuti. Begitu kami melihat ke belakang tempat duduk kami, duduk Toyama-san yang iseng itu. Dia menguping!

“Toyama-san!!!! Jangan menguping pembicaraan orang lain!!! Dasar tukang nguping dan cari perhatian!!!” teriakku, dan tanpa kusadari tanganku sudah menampar wajah Toyama-san.

“Aduh! Sakit, Midori-chan! Lagian kenapa kamu manggil aku Toyama-san sih?! Kita kan akrab. Kamu cukup memanggilku Syaoran-kun. Chise-chan juga, kok Midori dibiarin nampar aku sih?!” jerit Syaoran-kun. Kami yang khawatir wajah Syaoran terluka, langsung menarik Syaoran-kun ke rumahku, karena rumahku yang paling dekat ke sekolah.

Sesampainya dirumah, langsung kuambil saputangan bersih dan kurendamkan dengan air panas yang sudah diberi antiseptik. Setelah itu kuletakkan diwajah Syaoran yang kutampar. Sedangkan Chise membuatkan sirup dan makanan ringan. Chise memang pintar masak.

Setelah ku obati, Syaoran meneguk sirup dingin dan memakan kue kecil buatan Chise. Orangtuaku an tidak tinggal disini. Paling juga ada si bibi, yang sibuk di kamarnya sedang menyetrika pakaian.

“Syaoran, udah ah! Kamu ke-enakan sama kebaikan kami. Sekarang kamu kan udah gak sakit lagi, mendingan pulang sana! Jadi aku dan Chise bisa bercerita bebas tanpa khawatir ada yang menguping sepertimu!” bentakku pada Syaoran.

“Aku gak mau pergi. Kalian harus tanggung jawab dong sama luka di wajahku. Kan kalian yang membuat luka ini!” ujar Syaoran sambil menunjukkan pipinya yang memerah akibat tamparanku. “Iya, terserah kamu aja! Tapi bentar lagi mamaku pulang. Dia sengaja ambil cuti hari ini untuk menunjukkan calon suami barunya” jelasku pada Syaoran. Chise menangguk.

“Aku memang udah nguping soal curhatan kamu pada Chise-chan. Dan aku mau ke rumah kamu karena ada alasan lain. Yaitu...” belum selesai Syaoran bicara, Mama sudah membuka pintu depan dan melihat aku, Chise dan Syaoran sedang berdebat. Anehnya, mamaku bukannya marah malah tersenyum. Kulihat di belakang mama ada lelaki seumuran papa. Sepertinya dia akan menjadi papa baru-ku. “mama, yang di belakang mama itu siapa?” tanyaku pura-pura tak tahu.

“Midori, kenalkan, ini Makoto Toyama-san, beliau yang akan menjadi papa baru-mu. Makoto, ini Midori, anak perempuanku. Yang disamping Midori itu sahabatnya. Dan seorang lagi...” Mama tak melanjutkan kata-katanya karena melihat Syaoran memelukku dari belakang. Aku kaget. Mama malah tersenyum. Aku terheran-heran.

“Midori, dia adalah Syaoran Toyama, anak dari Makoto. Syaoran akan menjadi saudaramu kalau mama dan Makoto sudah menikah” jelas mama.

Serasa ada petir di siang bolong, aku tak sadar kalau marga Makoto-san sama dengan Syaoran-kun. Syaoran akan menjadi adikku. Chise juga bengong. Kami berdua tak menyangkan kalau kami akan dikejutkan 2 berita besar. Yang pertama kedatangan Syaoran sebagai teman baru kami. Yang kedua adalah kenyataan kalau Syaoran akan menjadi kakakku, meskipun Syaoran hanya 6 bulan lebih tua dari pada ku.

“Ooh, jadi Syaoran ini gesit mendekatiku karena dia tahu kalau aku akan menjadi adiknya. Dan Mama gak bilang kalau papa baru-lku juga punya anak seumuran denganku. Kepindahan Syaoran ke sekolahku juga sudah direncanakan oleh Mama dan Makoto-san?” tanyaku tak percaya. Mama dan Makoto-san mengangguk bersama.

Aku yang tak kuat mendengar berita besar itu langsung menarik lengan Chise dan membawanya ke kamarku. Kukunci pintu dan jendela kamarku, dan menangis di pundak Chise. Chise diam dan mengelus kepalaku. Sepertinya ia tahu bagaimana perasaanku.

“Midori-chan, kamu kan orang yang tegar, jadi sabar ya. Mungkin Syaoran mau memberitahukan hal itu padamu, tapi terputus oleh kedatangan mama Midori-chan. Mama Midori-chan juga pasti belum sempat memberitahumu, makanya baru diberitahu sekarang, sabar ya. Jangan nangis lagi, nanti kecantikanmu luntur, lho” bujuk Chise. Aku tak menanggapinya dan terus menangis di pundak Chise, sampai kemeja seragamnya basah.

Setelah menangis selama 1 jam lebih, aku mulai berhenti menagis. Chise pun mulai menghiburku. Usahanya tak sia-sia. Aku tertawa lagi. Chise juga ikut tertawa.

“Midori-chan, sebenarnya yang membuatmu menangis bukan karena berita yang mengagetkan, aku sahabatmu. Jadi beritahu aku. Aku tahu dari caramu menangis. Kamu tidak seperti orang yang menangis sedih karena tak dianggap oleh mama-mu, tapi kamu menangsi seperti orang yang kehilangan cinta pertamanya. Jadi, cerita dong, siapa orang yang beruntung itu?” tanya Chise.

“Sepertinya aku baru saadar, kalauy ternyata aku suka sama Syaoran pada pandangan pertama, tapi begitu tahu dia akan menjadi kakaku, aku merasa nggak rela. Padahal cita-citaku hampir tercapai. Dengan menikah dengan Makoto-san, mama akan bahagia. Tapi tidak denganku, karena Makoto-san yang akan menjadi papa baru-ku adalah ayah dari orang yang kusukai” jelasku pada Chise.

”Aku sudah menduganya” kata Chise. Melihat baju seragam Chise basah, segera kuambil baju kaos yang ada di lemari. “Chise, ganti bajumu nih, gara-gara aku baju kamu jadi basah. Nanti kamu masuk angin lho” ajakku kepada Chise. Chise mengangguk dan mengganti bajunya.

“Nah, sekarang bajuku sudah diganti, jadi aku mau kita keluar dari kamarmu. Kasihanilah aku, Chise yang cantik ini kelaparan, karena tadi mengurusi orang yang ditampar sahabatku, dan mengurus sahabatku juga” ujar Chise. Meskipun agak berat, aku mengajak Chise keluar sambil tersenyum. Aku tak tahu harus bagaimana jika bertemu dengan Mama dan Makoto-san.

Tanpa kupikir lagi, aku langsung menuju ruang makan. Disana ada Mama, Makoto-san dan Syaoran sedang makan siang. Melihat aku, Mama langsung berdiri dari kursinya dan mengajakku ke kamarnya. “Midori, mama bisa melihat dari matamu, kamu suka sama Syaoran bukan sebagai kakak kan? Apa kamu menyukai Syaoran?” tanya Mama. Aku menangguk.
“Begini, kalau kamu memang suka sama Syaoran, lebih baik Mama tidak usah menikah dengan Makoto-san. Dengan begitu, kamu bisa tetap menyukai Syaoran sebagai orang yang kamu cintai” tawar Mama. Aku kaget.

“Ma, memang Midori suka sama Syaoran, tapi Midori lebih senang kalau Mama bisa menikah dengan Makoto-san. Midori ingin punya Papa baru. Midori juga ingin mempunyai kakak, apa lagi kalau laki-laki” jelasku pada Mama.

“Ya, terserah kamu, tapi kalau kamu mau berubah piiran, lebih baik secepatnya. Mama dan Makoto-san mau pergi lagi. Kami mau mengurus undangan pernikahan nanti. Sebelum jam 8 malam, keputusanmu harus final, ya sayang” ujar Mama. Aku mengangguk. Dan kembali ke kamarku.

Tanpa kuketahui, Syaoran dan Chise sudah berada dalam kamarku. Syaoran langsung menatapku dalam-dalam. “Midori, kata Chise, kamu suka sama aku ya?” tanya Syaoran. Mau bagaimana lagi, aku mengangguk jujur. Syaoran tersenyum.

“Midori, aku juga suka sama kamu. Makanya aku bingung ketika tahu kalau Papa mau menikah dengan Mama-mu, kalau kamu yakin, kita bisa minta pada orang tua kita untuk membatalkan pernikahannya” kata Syaoran sambil menuntunku yang melamun untuk duduk di atas tempat tidur bersama Chise.

“Syaoran, aku rasa lebih baik biarkan saja orang tua kita. Bagiku, kebahagiaan Mama lebih penting dari apapun. Lagipula, aku akan sangat senang mempunyai kakak yang baik sepertimu” jelasku pada Syaoran. Semoga saja dia bisa menerimanya.

“Syaoran-kun, Midori-chan. Kalian seperti orang yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Malahan Syaoran-kun sudah lama menyukai Midori-chan. Sejak Midori menampar Syaoran pada waktu kelas 3 SD di Jepang. Aku jadi ingin tertawa senang, ketika tahu kalian akan menjadi kakak-beradik” ujar Chise. Untuk meramaikan suasana yang sendu, Chise memang jagonya. Kami pun tertawa.

Baiklah. Keputusanku dan Syaoran sudah final. Kami akan membiarkan kedua orang tua kami menikah dan kami menjadi kakak-beradik yang saling menyayangi dan saling melindungi. Aduuh. Jadi kayal drama aja dech...

Dan tibalah hari pernikahan Mama dan Makoto-san. Mulai saat ini, aku memanggil Makoto-san menjadi “Papa” dan memanggil Syaoran-kun menjadi “Kakak”. Dengan mengangghap bahwa Syaoran adalah kakakku, rasa cintaku pada Syaoran mulai pudar. Yang timbul adalah rasa sayang antar saudara.Aku sangat menyayangi Mama, Papa, Kak Syaoran, dan pastinya Chise-chan juga (beserta pacar barunya)...

Perkenalkan kembali, namaku adalah Midori Toyama, orang tuaku sekarang bernama Kyoko Toyama dan Makoto Toyama. Sedangkan kakakku, Syaoran Toyama. Sahabatku yang hobinya mengincar cowok, namanya Chise Kawakami.
Aku adalah gadis yang meninggalkan cinta pertamanya demi cita-citanya membahagiakan orang tua.
TAMAT

Sabtu, 18 Oktober 2008

Masuk Sekolah Lagi, Ulangan Menanti !!!

Ini sudah hari ke-4 aku dan tang lain kembali ke rutinitas sekolah. hari pertama halal bihalal saja. Hari ke-2 baru kami mulai belajar seperti biasa. Di hari ke-2 ini banyak yang masih maaf-maafan. Mungkin belum ketemu atau belum sempat.

Hari ke-3 aku mulai belajar seperti biasa di rumah. Meskipun hanya PR yang kukerjakan, tapi kan lumayan. Dan inilah hari ke-4. Jika penasaran, baca terus ya…
Di hari ke-4 ini aku mulai rapat besar lagi. hari pertama sih memang sudah rapat. Hari ke-2 juga. Benar benar sibuk sampai waktu itu aku nggak sempat makan siang dan Shalat Dzuhur ketika bel masuk hampir berbunyi.

Besok pun ada acara halal bihalal KRM. Aku harus datang dan mungkin akan meninggalkan rapat Danus. Meskipun tidak wajib datang aku tetap akan datang dengan alasan yang cukup untuk meninggalkan kegiatan Danus. Jika ada anggota Danus yang membaca ini, maaf ya…

Meskipun terlambat, tak lupa kuucapkan “”SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN”” kepada seluruh pembaca yang setia dan pembaca yang sekedar mampir. Jangan lupakan blog ini meskipun isi dan tampilannya sederhana…